-
Jurnal Pembelajaran Sastra
Vol 6 No 02 (2024)Puji Syukur, Jurnal Pembelajaran Sastra Edisi 6 Nomor 2 telah tersaji ke hadapan para pembaca yang budiman. Dalam edisi ini kami menampilkan lima artikel dari tiga perguruan tinggi yang berbeda: Universitas Negeri Malang, UIN Maliki Malang, dan Universitas PGRI Wiranegara, Pasuruan, Jawa Timur.
Lima artikel yang tersaji menyoroti persinggungan antara sastra, penerjemahan, filsafat, transformasi budaya, serta pendidikan. Kelima kontribusi ini menunjukkan bagaimana teks diproduksi, dimediasi, dan diterima dalam beragam konteks kultural maupun pedagogis. Artikel pertama, "The Potential Impact of Inadequate Translation: Meaning Alteration and Decreased Comprehension in the Indonesian Translation of Lamb to the Slaughter," membahas dampak ketidaktepatan penerjemahan terhadap perubahan makna dan penurunan pemahaman pembaca. Kajian ini menegaskan pentingnya menjaga kualitas penerjemahan dalam penyampaian karya sastra lintas budaya.
Artikel kedua, Eksistensialisme Jean Paul Sartre dalam Novel Merdeka Sejak dalam Hati karya Ahmad Fuadi, menempatkan filsafat eksistensialisme dalam kerangka sastra Indonesia. Dengan membaca karya Fuadi melalui perspektif Sartrean, penelitian ini memperlihatkan pertemuan antara gagasan filosofis global dan narasi lokal, yang memperkaya diskursus sastra sekaligus filsafat. Artikel ketiga, Transformasi Narasi Kisah Cinta Segi Empat Narasi Ramayana dalam Lagu Kontemporer, mengkaji bagaimana kisah klasik Ramayana mengalami transformasi dalam medium musik kontemporer. Analisis ini menunjukkan keberlanjutan relevansi teks tradisional melalui adaptasi seni modern, yang merefleksikan dialog antara tradisi dan modernitas.
Dua artikel terakhir memperluas bahasan ke ranah representasi sosial-budaya dan praktik pendidikan. Gaya Hidup Tokoh dalam Novel "A Very Yuppy Wedding" karya Ika Natassa mengulas representasi gaya hidup kelas menengah urban dalam sastra populer Indonesia, sementara Analisis Soal Ulangan dalam Buku Pinter Bahasa Jawa 1 untuk SMP/MTs Kelas VII menilai kualitas instrumen evaluasi dalam pembelajaran bahasa daerah. Kedua artikel ini menekankan pentingnya representasi budaya sekaligus mutu pedagogis dalam wacana kontemporer.
Secara keseluruhan, kelima artikel dalam edisi ini menegaskan relevansi pendekatan interdisipliner dalam studi sastra, budaya, dan pendidikan. Kajian-kajian yang disajikan tidak hanya menawarkan analisis tekstual, tetapi juga membuka refleksi lebih luas tentang kesinambungan budaya, dialog filosofis, serta kualitas praktik pembelajaran, sehingga memberikan kontribusi bermakna bagi pengembangan ilmu humaniora. Selamat Membaca.
Tabik. -
Jurnal Pembelajaran Sastra
Vol 6 No 01 (2024)Puji syukur, Jurnal Pembelajaran Sastra Edisi 6 Nomor 1 tahun 2024 telah sampai ke hadapan para pembaca. Edisi ini menampilkan lima artikel dari empat institusi yang berbeda: tiga dari institusi dalam negeri (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Universitas Negeri Malang, dan SMA N 10 Malang) serta satu artikel dari Zhejiang Yuexiu University of Foreign Languages, China.
Kelima artikel yang tersaji dalam edisi kali ini menampilkan tema yang menunjukkan keterkaitan erat antara sastra dan pengalaman dunia nyata melalui berbagai kajian akademis. Dalam puisi Edgar Allan Poe yang berjudul "Alone," analisis biografis dan simbolistik mengungkap bagaimana Poe menggunakan narasi "Aku" untuk mencerminkan masa kecilnya yang penuh tantangan. Puisi ini terbagi dalam tiga fase: tahun-tahun awal Poe dengan ibu kandungnya, kehidupannya bersama keluarga Allan, dan dampak emosional kehilangan ibu angkatnya. Melalui simbol-simbol seperti badai, sinar matahari, dan setan, Poe menggambarkan emosinya yang penuh gejolak dan pengalamannya. Refleksi pribadi ini menunjukkan bagaimana sastra sering kali mencerminkan dunia batin penciptanya, menggunakan representasi simbolik untuk mengomunikasikan makna yang lebih dalam tentang kehidupan, perjuangan, dan kehilangan.
Serupa dengan bagaimana pengalaman hidup Poe memengaruhi karya sastranya, novel "The Wall" karya John Lanchester mencerminkan kekhawatiran global kontemporer tentang isu-isu lingkungan. Dengan menggunakan pendekatan ekokritik, studi tentang novel ini menunjukkan bagaimana narasi sastra dapat menggambarkan dampak perubahan iklim, polusi, dan krisis lingkungan lainnya. Novel ini menekankan pentingnya kesadaran dan tindakan terhadap degradasi lingkungan, menjadikan sastra sebagai alat yang kuat untuk advokasi lingkungan. Karya Poe dan Lanchester sama-sama menunjukkan bagaimana sastra dapat menjadi media untuk membahas isu-isu pribadi dan global, mengaitkan narasi individu dengan kepedulian masyarakat yang lebih luas.
Menerjemahkan karya sastra ke dalam berbagai bahasa dapat memperkuat tema dan pesan ini, seperti yang ditunjukkan dalam studi tentang terjemahan "Qasidah Burdah" oleh Ibnu Abroh. Penelitian ini berfokus pada keakuratan terjemahan dan bagaimana berbagai teknik, seperti terjemahan harfiah dan idiomatik, memengaruhi makna yang disampaikan. Studi ini menemukan bahwa 84,66% terjemahan tergolong akurat, tetapi juga menyoroti tantangan dalam mempertahankan esensi karya asli dalam bahasa yang berbeda. Proses terjemahan tidak hanya melibatkan keakuratan linguistik, tetapi juga sensitivitas budaya untuk mempertahankan makna penting karya tersebut, mirip dengan bagaimana narasi Poe dan Lanchester memerlukan interpretasi yang cermat agar dapat dipahami dan dihargai sepenuhnya.
Eksplorasi tentang bagaimana karya sastra dianalisis juga diperluas ke esai-esai sosiologis, seperti yang disoroti dalam analisis esai-esai sosiologis Arief Budiman. Berbeda dengan kritikus yang bertujuan mengevaluasi keberhasilan atau kegagalan suatu karya sastra, esais berinteraksi dengan teks sebagai pemikir, menawarkan refleksi dan interpretasi baru. Hal ini ditunjukkan dalam esai kritis Ignas Kleden, yang mengkaji simbolisme tubuh dalam puisi-puisi Joko Pinurbo. Dengan beralih dari simbolisme tradisional yang berasal dari alam ke simbolisme yang berpusat pada tubuh, esai ini menyajikan perspektif baru tentang bagaimana sastra dapat mencerminkan dimensi masyarakat dan budaya. Analisis mendalam semacam ini menekankan hubungan dinamis antara sastra dan refleksi sosial, menunjukkan bagaimana berbagai perspektif dapat memperkaya pemahaman kita tentang teks.
Akhirnya, penerapan praktis dari analisis sastra dan bercerita terlihat dalam studi kasus Departemen Bahasa Indonesia di Universitas Bahasa Asing Zhejiang Yuexiu. Di sini, bercerita digunakan sebagai alat instruksional untuk meningkatkan keterampilan mendengarkan siswa dan kesadaran budaya. Studi ini menekankan pentingnya desain instruksional dalam melibatkan siswa secara efektif, menunjukkan bahwa mengintegrasikan cerita dengan tujuan pembelajaran dapat mendorong perolehan bahasa yang lebih baik dan pemahaman budaya. Temuan ini sejalan dengan tema yang lebih luas bahwa sastra, baik dianalisis untuk isinya yang simbolik, biografis, atau sosiokultural, dapat menjadi media yang kuat untuk pendidikan dan refleksi tentang isu-isu pribadi, sosial, dan lingkungan.
Tabik.
-
Jurnal Pembelajaran Sastra
Vol 5 No 02 (2023)Puji Syukur
Jurnal Pembelajaran Sastra edisi 5 nomor 2 telah hadir di hadapan para pembaca yang budiman. Edisi ini menampilkan lima artikel dari tujuh institusi berbeda, dua di antaranya merupakan hasil kolaborasi dengan kolega dari luar negeri (Korea dan Thailand): Postgraduate Hankuk University of Foreign Studies (South Korea), Chiang Mai University (Thailand), STKIP PGRI Jombang, Universitas Brawijaya, TKIT Asy Syafaah Karangjati Ngawi, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan Universitas Negeri Malang.Kerja-kerja kolaborasi ini melahirkan beragam tema kajian yang dirangkai sebagai berikut.
Edisi kali ini menawarkan wawasan ke dalam berbagai aspek budaya, sastra, dan konteks pembelajaran. Artikel-artikel menyoroti beragam topik, mulai dari tradisi Ojhung, seni pertunjukan tradisional Can-Macanan, penggunaan video untuk pengenalan sastra anak, analisis identitas dalam film populer, hingga pembahasan nilai moral pada syair lagu berbahasa Jawa karya Sujiwo Tejo.
Artikel pertama membahas kajian antropolinguistik tradisi Ojhung yang dilakukan masyarakat Desa Bugeman. Tradisi ini berfungsi sebagai doa untuk keselamatan, turunnya hujan, panen melimpah, serta penolak bala. Penelitian menyoroti nilai-nilai terkait hubungan manusia dengan budaya, Tuhan, alam, waktu, serta interaksi antarmanusia.
Artikel kedua mengupas seni pertunjukan Can-Macanan Kaddhuk di Kabupaten Jember. Penelitian ini mendeskripsikan bentuk pertunjukan, eksistensinya, serta pergeseran makna yang terjadi. Hasil temuan menunjukkan bahwa nilai kesenian ini mengalami perubahan, baik karena faktor internal maupun eksternal, yang mencerminkan dinamika serta adaptasi kesenian tradisional dalam menghadapi perubahan sosial-budaya.
Artikel ketiga membahas inovasi pembelajaran sastra anak usia dini di masa pandemi COVID-19. Pendekatan Project-based Learning menunjukkan adaptasi kreatif terhadap keterbatasan interaksi fisik dengan memanfaatkan teknologi video guna meningkatkan keterlibatan anak dalam sastra. Kajian ini menegaskan pentingnya adaptasi metode pembelajaran pada situasi krisis, namun juga membuka diskusi tentang efektivitas jangka panjang serta dampak psikososial pembelajaran jarak jauh bagi anak usia dini.
Artikel keempat menyoroti tema identitas diri pada fase remaja melalui kajian film Yuni. Analisis menunjukkan bahwa kegagalan menemukan identitas diri tidak hanya dipengaruhi kelemahan internal, seperti keterbatasan kepribadian atau pandangan hidup, tetapi juga oleh faktor eksternal seperti ketidakmampuan memahami adat dan kesulitan beradaptasi dengan kehidupan modern.
Artikel terakhir membahas karya musik Sujiwo Tejo, khususnya album Pada Suatu Ketika, yang memuat nilai-nilai moral terkait pendidikan karakter dalam Kurikulum Merdeka. Penelitian berhasil mengidentifikasi lima belas nilai moral, terbagi dalam nilai spiritual dan sosial. Temuan ini memperlihatkan bahwa lima dari enam dimensi Profil Pelajar Pancasila berkorelasi erat dengan nilai-nilai moral dalam lagu-lagu tersebut.
Beragam tema artikel dalam edisi ini menunjukkan pentingnya kajian seni tradisional maupun kontemporer beserta nilai-nilai yang dikandungnya. Dengan pendekatan inovatif, pengembangan nilai dalam seni tradisional dan modern dapat memberikan kontribusi penting dalam pembentukan karakter siswa di ruang-ruang pembelajaran, sehingga lahir masyarakat yang inklusif dan sadar budaya.
-
Jurnal Pembelajaran Sastra
Vol 5 No 01 (2023)Puji Syukur, Jurnal Pembelajaran Sastra Edisi 5 Nomor 1 tersaji ke hadapan para pembaca yang budiman. Dalam edisi ini kami menampilkan lima artikel dari tiga perguruan tinggi yang berbeda, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Budi Utomo Malang. Tema-tema yang disajikan dalam edisi ini, dirangkai sebagai berikut.
Lima artikel dalam edisi ini menawarkan wawasan ke dalam berbagai aspek budaya dan sastra Indonesia, dari diskusi yang menyoroti sifat yang berkembang dari masa kanak-kanak dalam sastra anak, penanaman nilai-nilai budaya Jawa dalam media modern, makna asosiatif dalam musik kontemporer, metodologi pendidikan inovatif, serta representasi kearifan lokal dalam film.
Artikel pertama, Evolusi Konsep Masa Kanak-kanak Melalui Sastra Anak Indonesia mengeksplorasi peran penting sastra anak dalam merefleksikan dan membentuk konsep masa kanak-kanak dalam masyarakat Indonesia dari masa kolonial Belanda hingga era digital saat ini. Dengan menggunakan penelitian literatur dan etnografi virtual, studi ini melacak evolusi genre ini di berbagai era, mencatat pergeseran signifikan dari penekanan pada keterampilan komunikasi menjadi mendorong pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan orang lain.
Yang kedua, Nilai-Nilai Budaya Jawa dalam Komik Digital 'Dongkrek' menyelami komik digital 'Dongkrek' oleh Arif Bayu, yang menggabungkan prinsip-prinsip budaya Jawa fundamental seperti gotong royong, kerendahan hati, dan rasa hormat. Studi ini menyoroti relevansi komik tersebut terhadap pendidikan sastra di sekolah menengah, dan meyakinkan bahwa prinsip-prinsip budaya ini dapat berkontribusi secara signifikan terhadap pengembangan karakter dan perilaku sosial siswa.
Artikel “Makna Asosiatif dalam Album 'Riuh' Feby Putri” menganalisis konten lirik album 'Riuh' Feby Putri, menyimpulkan adanya makna asosiatif yang beresonansi dengan pendengar di luar tingkat linguistik. Kosakata yang digunakan dalam lirik membawa nilai-nilai moral dan perspektif hidup, memberikan pendengar energi positif dan koneksi emosional yang lebih dalam dengan lagu-lagu tersebut. Ini menunjukkan kekuatan musik dan puisi untuk memengaruhi audiens.
“Pembelajaran Berbasis Proyek dalam Pendidikan Pantun Tradisional” menyajikan pendekatan pengajaran inovatif melalui Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) yang dikombinasikan dengan metode kontekstual dan teknik sosiodrama. Penelitian menunjukkan tingkat keterlibatan dan pemahaman siswa yang tinggi dalam membuat 'pantun', difasilitasi oleh lingkungan pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan. Implementasi model ini menjanjikan pendidikan budaya yang lebih dinamis dan bermakna, serta meningkatkan kemampuan komunikasi siswa.
Artikel “Kearifan Lokal dalam Film Berbahasa Jawa 'Turah' ini meneliti bagaimana film 'Turah' menggambarkan kearifan lokal masyarakat pesisir Kampung Tirang, memfokuskan pada nilai-nilai yang berkaitan dengan mata pencaharian, bahasa, hubungan sosial, spiritualitas, dan kearifan praktis. Representasi media seperti ini dapat meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap kearifan lokal, yang penting untuk menjaga identitas masyarakat dan keseimbangan ekologis.
Artikel-artikel ini melukis ragam budaya dan pendidikan Indonesia yang kaya, menyoroti pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dan pendekatan inovatif untuk mendorong masyarakat yang lebih inklusif, empatik, dan sadar budaya.
Top of Form
Tabik.
-
Jurnal Pembelajaran Sastra
Vol 4 No 02 (2022)Puji Syukur, Jurnal Pembelajaran Sastra Edisi 4 Nomor 2 bisa tersaji ke hadapan para pembaca yang budiman. Dalam edisi ini kami menampilkan lima artikel dari empat perguruan tinggi yang berbeda, Unisma. Universitas Negeri Malang, IAI Al Qolam, dan UIN Tulungagung. Tema-tema yang disajikan dalam edisi ini, bisa dirangkai sebagai berikut.
Dalam tapestri yang luas dan berwarna-warni dari dunia pendidikan, sastra, dan bahasa, masing-masing memiliki cerita untuk diceritakan, pelajaran untuk dipelajari, dan kebenaran untuk diungkap. Artikel-artikel yang ada dalam edisi ini menyentuh berbagai aspek dari kekerasan ragawi dalam sastra hingga strategi pengajaran inovatif di kelas, semuanya bertujuan untuk memperkaya pemahaman kita dan memperluas wawasan kita terhadap dunia di sekitar kita. Dengan mengeksplorasi topik-topik ini, kita bisa merenungkan dan berkontribusi terhadap diskusi yang lebih besar tentang pendidikan, sastra, dan masyarakat.
Artikel pertama membawa kita ke dalam dunia "Laut Bercerita", di mana kita menghadapi realitas kekerasan ragawi yang dialami oleh tokoh Biru Laut. Ini bukan hanya tentang mengungkap kekerasan dalam narasi, tetapi juga tentang menghubungkan pengalaman tersebut dengan kampanye antikekerasan yang lebih luas, memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana sastra dapat berfungsi sebagai cermin dan katalis untuk perubahan sosial.
Artikel kedua membawa kita berpindah ke domain pendidikan dengan penelitian yang mengeksplorasi bagaimana berpikir kritis dan kreatif ditekankan dalam kurikulum Bahasa Indonesia. Ini menggarisbawahi pentingnya mengasah kemampuan ini di antara siswa, tidak hanya sebagai alat akademis, tetapi sebagai kebutuhan dasar untuk navigasi dan inovasi dalam masyarakat yang terus berubah.
Penelitian ketiga menawarkan pandangan mendalam tentang interaksi antara bahasa Arab dan Indonesia melalui kaca mata kata serapan, mengungkapkan nuansa kekayaan bahasa dan perubahan semantik yang terjadi dalam proses penyerapan. Hal ini menyoroti keanekaragaman linguistik dan kebutuhan untuk memahami bahasa tidak hanya sebagai sistem komunikasi, tetapi juga sebagai wadah pertukaran budaya.
Dengan melihat ke dalam kelas bahasa di sebuah SMP, artikel keempat mengungkapkan bagaimana siswa menggunakan gaya bahasa dalam puisi, memperlihatkan kreativitas dan kepekaan linguistik yang mereka kembangkan. Proses ini bukan hanya tentang mengapresiasi estetika puisi, tetapi juga tentang mengakui puisi sebagai sarana ekspresi diri yang penting bagi generasi muda.
Artikel terakhir mengajak kita untuk mempertimbangkan peran media audiovisual dan metode diskusi dalam mengajar menulis teks biografi di kelas. Ini menekankan bagaimana pendekatan inovatif dalam pendidikan dapat memfasilitasi pembelajaran yang lebih mendalam dan menarik, mempersiapkan siswa untuk menjadi komunikator yang efektif dan pemikir yang reflektif.
Masing-masing artikel dengan caranya masing-masing, berkontribusi pada dialog yang berkelanjutan tentang bagaimana kita dapat memperkaya proses pembelajaran, memahami lebih dalam karya sastra, dan merespons secara efektif terhadap isu-isu sosial melalui pendidikan dan sastra.
Tabik
-
Jurnal Pembelajaran Sastra
Vol 4 No 01 (2022)Dalam edisi ini kami menampilkan lima artikel dengan tema-tema yang bisa dirangkai sebagai berikut.
Artikel pertama, "Multiculturalism Amid Societal and Cultural Plurality in Indonesia" oleh Djoko Saryono dan Misbahul Amri, menyoroti keberagaman budaya dan masyarakat Indonesia. Sejak sebelum pendirian negara pada tahun 1945, Indonesia telah menunjukkan heterogenitas yang signifikan. Artikel ini menekankan pentingnya pendidikan multikultural dalam menciptakan sinergi dan pemahaman antarbudaya, yang sangat penting di tengah masyarakat pluralis Indonesia. Universitas-universitas di Indonesia berperan penting dalam mempromosikan pendidikan ini, yang membantu dalam membangun toleransi dan kerjasama di antara keberagaman yang ada.
Kedua, "Penerapan Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) Melalui Teks Drama 'Sultan Suriansyah'" oleh Rusma Noortyani dan kawan-kawan mengeksplorasi implementasi pendekatan pembelajaran yang responsif secara budaya di sebuah sekolah menengah di Banjarmasin. Melalui analisis drama "Sultan Suriansyah", penelitian ini menunjukkan keberhasilan pendekatan ini dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang unsur intrinsik drama serta meningkatkan keterampilan seperti percaya diri, tanggung jawab, dan kerjasama. Ini menggarisbawahi pentingnya pendidikan yang mengakui dan merangkul keragaman budaya dalam pembelajaran.
Tiga artikel lainnya menyediakan perspektif yang berbeda, yang memberikan penekanan pada aspek-aspek berbeda dari pendidikan dan sastra Indonesia, termasuk psikoanalisis sastra, analisis arketipal dari legenda lokal, dan pentingnya kesantunan dalam komunikasi bahasa. Masing-masing artikel memberikan wawasan unik tentang bagaimana keberagaman budaya dan pendidikan di Indonesia saling berinteraksi dan berkontribusi pada pengembangan sosial dan intelektual masyarakatnya.
Artikel berjudul "The Enlightening Madness: Nukila Amal’s Cala Ibi as a Metafiction through Lacanian Psychoanalysis" oleh Sri Rosyana Ratnaningsih dan Dian Nurrachman menyoroti hubungan antara sastra dan ketidaksadaran manusia melalui analisis psikoanalitik Lacanian terhadap novel metafiksi “Cala Ibi” karya Nukila Amal. Mereka mengeksplorasi bagaimana puisi lirik dalam novel dapat digunakan untuk menggambarkan karakter dan konsep tahap cermin Lacan, memberikan wawasan baru tentang interpretasi sastra dan psikoanalisis.
Artikel dengan tema “Struktur Arketipe dalam Legenda Telaga Buret” oleh Cindy Pradina Putri dan Dwi Sulistyorini menyelidiki struktur arketipe dalam legenda Telaga Buret di Tulungagung. Dengan pendekatan kualitatif, mereka menemukan empat arketipe utama dalam legenda ini: persona, bayangan, pahlawan, dan diri. Penelitian ini menyoroti kekayaan budaya dan sastra rakyat Indonesia, serta pentingnya melestarikan cerita rakyat sebagai bagian dari warisan budaya.
Yang terakhir, Miftakhul Rohana dan Heny Sulistyowati membahas pentingnya kesantunan berbahasa dalam pendidikan, dengan mengeksplorasi kesantunan berbahasa dalam diskusi pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 3 Peterongan. Mereka menunjukkan bahwa diskusi kelas adalah medium efektif untuk mengajarkan kesantunan berbahasa, dengan fokus pada maksim-maksim seperti kebijaksanaan, kesederhanaan, dan penghargaan. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya komunikasi yang sopan dan efektif dalam pendidikan.
Semoga membawa manfaat dan menginspirasi para pembaca sekalian. Selamat membaca. Tabik.
-
Jurnal Pembelajaran Sastra
Vol 3 No 01 (2021)PENGANTAR REDAKSI
Syukur Alhamdulillah, Jurnal Pembelajaran Sastra Volume 3 no. 1 (2021) bisa kami hadirkan ke hadapan pembaca, meskipun mengalami keterlambatan karena pandemi Covid-19 yang mempengaruhi ritme kerja dan semua aspek kehidupan kita. Edisi kali ini memuat artikel-artikel yang memberi inspirasi bagi pembaca dan peneliti sastra dan pembelajaran sastra. Dari lima artikel, tiga di antaranya merupakan artikel yang mengulik tema pembelajaran sastra dan dua artikel bertema kajian sastra.
Artikel bertema pembelajaran sastra bisa kita baca pada artikel yang ditulis oleh Bapak Sudibyo, berjudul “Nilai Kepahlawanan, Sastra Sejarah, dan Pembelajaran Sastra.” Artikel ini memaparkan dan menggali lebih lanjut tentang muatan sejarah dalam karya sastra yang mempunyai peran strategis untuk menanamkan nilai nilai kepahlawanan. Karya sastra bermuatan sejarah penting bagi siswa dalam memahami sastra sekaligus membangun pemaknaan akan peristiwa sejarah yang termaktub di dalamnya. Artikel pembelajaran sastra juga ditulis oleh Muhammad Ihya Ulumuddin dan Arif Setiawan dengan tema Peningkatan ketrampilan menulis cerita fantasi pada siswa MTs, menggunakan pendekatan joyful learning, pembelajaran yang menyenangkan, yang mendorong siswa untuk lebih mengingkatkan ketrampilan menulis cerita. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, penelitian pembelajaran sastra juga menyentuh penggunaan berbagai bentuk karya sastra di berbagai platform media sosial. Tema ini diusung oleh Maharani Wahyu Wisesa dan Nita Widiati dalam artikel yang memfokuskan pada puisi karya siswa SMAN 53 Jakarta Timur yang diunggah di Podcast. Didorong oleh konteks pembelajaran di masa pandemi dan perkembangan teknologi informasi, podcast menjadi salah satu wadah untuk mengakomodasi kreativitas dan produktivitas siswa dalam berkarya, dan memaknai situasi yang tidak biasa di sekitar mereka.
Artikel mengenai kajian sastra dalam edisi ini bisa dibaca dari dua artikel. Yang pertama, artikel yang ditulis oleh Ardi Wina Saputra dan Tengsoe Tjahjono, berjudul “Trajektori Perempuan dalam Novel Mentari Nur Syamsiah Bersinar.” Novel ini dianalisis dengan menggunakan analisis struktural aktansial, dan analisis sosial Pierre Bourdieu ditinjau dari aspek kekerasan simbolik, dominasi maskulin, habitus, modal, ranah, dan praktik sosial, serta unsur gastronomi pada setiap aspek analisis. Analisis ini menegaskan perlawanan perempuan terhadap dominasi maskulin melalui masakan. Artikel kajian sastra yang kedua ditulis oleh Rizky Yunita Sari dan Lilis Lestari Wilujeng, dengan tema bahasa kiasan atau Figurative Language dalam novel karya Katherine Applegate berjudul “Home of the Brave”. Artikel ini menyoroti perihal personifikasi dan strategi pengarang menggunakannya dengan perbandingan unsur alam, mengingat tokoh utama novel ini adalah imigran dari Sudan yang mengalami banyak tantangan untuk memahami berbagai konsep yang asing di Amerika.
Selamat membaca dan mensitasinya. Tabik.
-
Jurnal Pembelajaran Sastra
Vol 7 No 1 (2025)Puji syukur, Jurnal Pembelajaran Sastra Edisi 7 Nomor 1 tersaji ke hadapan para pembaca yang budiman. Dalam edisi ini, kami menampilkan lima artikel dari tiga perguruan tinggi yang berbeda: Universitas Negeri Malang, Universitas Ma Chung, dan Universitas Muhammadiyah Malang.
Edisi ini mengangkat tema besar “Sastra, Budaya, dan Kemanusiaan dalam Perspektif Kontemporer”, dengan kontribusi artikel yang menyoroti perjumpaan antara karya sastra dan kehidupan sosial melalui beragam pendekatan teoretis dan metodologis. Artikel pertama, berjudul “Ekokritisisme Lawrence Buell: Representasi Alam dalam Novel Laskar Pelangi”, menguraikan bagaimana alam diperlakukan bukan semata sebagai latar cerita, tetapi sebagai elemen yang membentuk identitas dan nilai karakter dalam karya Andrea Hirata. Melalui pendekatan ekologi sastra, penulis menegaskan pentingnya kesadaran ekologis dalam wacana sastra Indonesia modern.
Artikel kedua, “Fungsi Folklor Legenda Sumber Tertua ‘Sumur Gedeh’ Desa Petung, Gresik”, mengkaji folklor sebagai sistem nilai sosial yang hidup di tengah masyarakat. Penelitian ini menampilkan peran legenda sebagai alat pendidikan moral, pengukuhan norma sosial, dan mekanisme kontrol budaya, sekaligus menegaskan fungsi warisan lisan dalam memperkuat identitas komunitas lokal. Artikel ketiga, “Eksplorasi Traumatis dan Rekonsiliasi Trauma dalam Buku Kumpulan Cerpen B Karya Sasti Gotama”, membawa pembaca pada ruang batin manusia yang penuh luka dan upaya penyembuhan. Dengan menggunakan teori trauma Cathy Caruth dan konsep rekonsiliasi Dominick LaCapra, penulis memetakan bagaimana karakter-karakter dalam kumpulan cerpen tersebut menegosiasikan ingatan dan penderitaan menuju proses pemulihan diri.
Artikel keempat, “Unveiling Moral Growth in Children: An Analysis of Enid Blyton’s Five on a Hike Together”, membahas perkembangan moral anak dalam konteks sastra anak klasik melalui teori Piaget dan Kohlberg. Hasil kajian menunjukkan bahwa petualangan, kerja sama, dan persahabatan menjadi sarana pembelajaran moral yang efektif, menegaskan nilai sastra anak sebagai media pendidikan karakter yang mendalam dan menyenangkan. Artikel terakhir, “Pembelajaran Respons Pembaca Hujan di Bulan Juni: Emosi, Budaya, Refleksi”, menyoroti penerapan pendekatan respons pembaca dalam pembelajaran sastra di sekolah menengah. Dengan menekankan peran pengalaman pribadi dan konteks budaya pembaca, penelitian ini menawarkan model pedagogi sastra yang lebih humanistik, inklusif, dan kreatif, yang menumbuhkan empati sekaligus meningkatkan literasi estetis siswa.
Secara keseluruhan, kelima artikel dalam edisi ini menegaskan peran sastra dan budaya sebagai wahana refleksi dan transformasi nilai-nilai kemanusiaan. Setiap tulisan menghadirkan upaya akademik untuk menjembatani teori dan praktik, teks dan konteks, serta pengetahuan dan pengalaman. Melalui pendekatan yang beragam—dari ekokritisisme hingga teori trauma, dari folklor hingga pedagogi sastra—edisi ini diharapkan dapat memperluas cakrawala pembaca tentang bagaimana karya sastra berkontribusi pada pembentukan kesadaran sosial, ekologis, dan moral di tengah perubahan zaman.
Redaksi menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para penulis, mitra bestari, serta semua pihak yang telah berkontribusi dalam penerbitan edisi ini. Semoga tulisan-tulisan yang tersaji tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga menginspirasi pembaca untuk terus mengembangkan penelitian interdisipliner yang berakar pada kemanusiaan, kebudayaan, dan keindahan sastra.
Tabik.
-
Jurnal Pembelajaran Sastra
Vol 2 No 02 (2020)Itulah sebabnya, saya bersyukur dengan meluncurnya jurnal pembelajaran sastra oleh HISKI Komisariat Malang. Atas nama pengurus HISKI Pusat kami sepantasnya mengucapkan selamat dengan terbitnya jurnal Pembelajaran Sastra yang (semoga) memuat pemikiran-pemikiran alternatif. Jurnal ini merupakan upaya pendokumentasian, penyebarluasan, dan diseminasi hasil-hasil pemikiran tentang rekayasa pembelajaran sastra. Pembelajaran sastra selama ini memang banyak tantangan. Kemajuan teknologi dan komunikasi, suka atau tidak suka akan berpengaruh pada situasi pembelajaran sastra. Manakala para pemikir pembelajaran sastra kurang tanggap zaman, tentu selamanya sastra akan menjadi sampah dalam pembelajaran.
Kalau saya melirik artikel-artikel yang masuk dalam jurnal pembelajaran sastra ini, memang perlu penggolongan tematik yang jelas. Maksudnya agar seluruh artikel yang terbit itu memang memuat percikan pemikiran tentang pembelajaran sastra melalui berbagai aspek. Pembelajaran sastra itu sebuah komunikasi estetis. Pembelajaran sastra itu merupakan upaya memasuki relung-relung, kolam-kolam, dan hutan sastra. Oleh sebab itu, pembelajaran sastra yang baik tentu harus tetap berkiblat pada makna sastra bagi manusia dan non manusia. Pembelajaran sastra yang menggunakan perspektif posthumanisme sastra pun, seharusnya tetap memperhatikan sastra sebagai pertaruhan hidup.
(Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum)
-
Jurnal Pembelajaran Sastra
Vol 2 No 01 (2020)Dari Redaksi: Taman Bunga
Alhamdulillah. Edisi pertama volume kedua Jurnal Pembelajaran Sastra ini berhasil kami sajikan ke hadapan pembaca. Pada edisi ini kami memilih lima artikel hasil penelitian dengan lima topik yang berbeda. Ibarat taman kota, yang berisi berbagai macam tanaman bunga dan rerumputan, topik-topik pembahasan kali ini tersaji secara beragam, mulai dari pendekatan psikologi, antropologi sastra, sosiologi sastra, sampai pembelajaran sastra dengan tema lingkungan.
Pendekatan psikologi trauma, Post-traumatic Stress Disorder, menjadi pisau analisis untuk membedah novel karya Kevin Power yang berjudul The Yellow Birds yang menarasikan trauma yang dialami para serdadu Amerika Serikat sepulang dari perang Teluk. Tema novel ini menarik sebagai “dokumentasi” atas suatu peristiwa peperangan, yang memang semestinya bukan hanya memperhitungkan korban jiwa secara fisik, namun juga dampak-dampak psikologis yang tak kalah mengerikan. Banyak pengalaman traumatik yang mencekam memori dan psikologi para tentara ini yang menggoreskan parut-parut luka psikologis, seumur hidupnya.
Masih menyuarakan persoalan peperangan, novel Led by Faith ditelaah dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Artikel yang berjudul “Rwandan Genocide Conflict Represented in the novel Led by Faith” ini menerapkan teori konflik Dahrendorf untuk mendedah konflik antaretnis yang terjadi di Rwanda pada tahun 1994. Penulis novel, Immaculée Ilibagiza, menuangkan pengalamannya bertahan dalam tragedi pembantaian etnis yang terjadi di Rwanda, ke dalam novel yang judul lengkapnya adalah “Led by Faith: Rising from The Ashes of Rwandan Genocide.” Artikel ini mengungkapkan bahwa konflik yang terjadi di Rwanda, antara etnis Hutu dan Tutsi tidak terlepas dari pertarungan kekuasaan di antara para elit etnis tersebut.
Perkembangan sastra Indonesia kontemporer mengalami berbagai fenomena menarik, salah satunya, yakni dengan diterjemahkannya karya-karya best-seller ke dalam Bahasa Inggris, sehingga memperluas dan menduniakan jangkauan pembaca karya tersebut. Di antara karya terjemahan ini adalah novel yang ditulis oleh Ahmad Fuadi, “Negeri Lima Menara” yang dialihbahasakan menjadi “The Land of Five Towers.” Penerjemahan novel ini ke dalam Bahasa Inggris memungkinkan mahasiswa Sastra Inggris menjadikannya sebagai objek penelitian. Maka, tersajilah artikel hasil penelitian ini, “Alif’s Adolescence Crises in “The Land of Five Towers.“ Oleh penulisnya, Bayu Aji, novel ini didedah dengan menggunakan teori psikologi perkembangan yang dianggit oleh Erick Erickson.
Pendekatan antropologi sastra menjadi pisau analisis untuk mendedah “Serat Centini 1” karya Agus Wahyudi. Serat Centini aslinya merupakan karya yang monumental yang ditulis oleh Ronggowarsito, sastrawan Jawa yang sangat melegenda. Oleh Agus Wahyudi, Serat Centini dianggit menjadi novel sebanyak 12 jilid. Novelisasi ini menjadikan kandungan Serat Centini lebih mudah dibaca dan diakses oleh masyarakat. Artikel penelitian yang tersaji ini menggunakan pendekatan yang mengungkapkan persoalan budaya “gugon tuhon” dalam Serat Centini I. Artikel ini mengeksplorasi narasi cerita yang berkaitan dengan penyampaian mitos gugon tuhon melalui lisan dan alat pengingat. Kedua sarana ini penting dalam membangun keyakinan dan kepercayaan masyarakat akan sesuatu yang harus dipahami.
Pembelajaran sastra di jenjang Pendidikan SMP sangat terkait erat dengan sastra. Artikel ini mengeksplorasi proses pembelajaran menulis syair sebagai materi pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 3 Malang pada kelas VII semester genap. Menulis syair diharapkan akan mengembangkan kretivitas dan imajinasi para siswa, selain itu menjadikan siswa lebih akrab dengan sastra. Pembelajaran menulis syair di SMP ini mengambil tema lingkungan alam, sehingga para siswa menjadi lebih peka terhadap alam sekitarnya, dan pembelajaran ini menjadi proses kreatif yang menyenangkan.
Penerbitan Jurnal Pembelajaran Sastra edisi ini tidak terlepas dari kerja keras dari berbagai pihak, terutama para penulis yang telah menyumbangkan tulisan hasil karyanya, dan didukung oleh tim editor dan IT. Ke depan, kami masih sangat mengharapkan sumbangan tulisan dari para pembaca sekalian. Mungkin artikel di Jurnal ini belum mempunyai berbobot kum besar, namun kita bisa menjadikannya sebagai investasi yang mempunyai nilai besar dalam jangka panjang, baik bagi individu maupun bagi institusi (HISKI). Secara individu, kemampuan menulis akan semakin terasah dengan baik manakala kita sering menulis. Secara institusional, Jurnal yang mampu bertahan dan berkembang akan menjadi dokumentasi karya sekaligus inventaris pengetahuan yang kita bangun dan kita miliki bersama.
Oleh karenanya, tidak lain, yang harus kita lakukan adalah menyemai dan menumbuhkembangkan daya hidup dan kreativitas. Semoga taman bunga kajian sastra dan pembelajaran sastra ini membawa manfaat bagi pembaca dan menyegarkan pikiran dalam memandang berbagai realitas di sekitar kita.
Tabik.



